This is Indonesia brur…

Harge tiket di malaysia paling mahal 144 ribu rupiah, di Indonesia 1 juta, semakin banyak yang mau, harga semakin dinaikin, bener-bener aji mumpung…

Di luar negeri banyak yang kagum sama kekayaan Indonesia, keramahan budayanya, tapi coba lu tanya tentang yang jeleknya, umumnya akan bilang, di Indonesia banyak aji mumpungnya, dimulai dari hal kecil jualan air sampe jabatan yang dipake untuk korupsi. Banyak yang kasian ngeliat masyarakat dikadalin sama segelintir orang, apapun yang diatasnamakannya.

Ironis, disaat tim nasional berhasil mencapai final kejuaraan AFF, banyak isu yang justru muncul, di mulai dari sistem penjualan tiket yang diprotes banyak orang, tim nasional yang di politisasi, tiket gratis untuk pejabat publik, massa yang ngamuk karena tidak kebagian tiket, dan banyak lainnya.

Jika mau jujur, setelah belasan tahun tanpa ada sesuatu yang patut dibanggakan, akhirnya tahun 2010 ini ada beberapa hal yang dibanggakan, dimulai dari obama yang tiba-tiba “balik kampung”, hingga kesuksesan timnas. Jika melihat fenomenanya, sebenarnya di negara ini terlalu banyak kekecewaan, sehingga disaat ada sedikit yang bisa dibanggakan, semua orang berebut seolah hanya pada momen ini empati bisa dibagi bersama-sama, semua rindu ada hal yang dibanggakan, terlebih semua rindu untuk berdiri tanpa harus merasa malu dengan keadaannya saat ini.

Ini Indonesia brur…

Saya juga merasa aneh untuk apa orang selevel menteri sekretaris negara mengklarifikasi masalah hak pejabat pemerintah, apakah dalam ruangan yang sama ada hak masyarakat yang dibahas? jadi rasanya disaat ini, dengan mental yang sama-sama rusah, rasanya kita tidak perlu berbicara tentang hak siapa-siapa, karena masalah hak ini bukan sesuatu yang pantas dibahas di Indonesia, ini kan Indonesia brur…

Tiba-tiba semua suka sepakbola, semua suka pergi ke stadion, semua suka membahas sepakbola, apakah ini masyarakat yang konsumtif, konsumtif dengan isu, dengan berita, dengan gosip, dan dengan euforia.

Semua lupa biaya pendidikan yang melambung tinggi, komersialisasi yang tidak memimiliki batasan, dan politik menjadi panglima, aturan adalah nomor kesekian hanya untuk pengabsahan ketika silat lidah tidak cukup untuk berakselerasi.

Leave a Reply